Jumat, 12 Februari 2016

Bola Mata



Hujan tengah malam mengingatkanku pada seorang lelaki bermata tajam bak mata pisau yang siap mencincang daging-daging segar. Jantungku berdetak ribuan kali lipat ketika bola mata kami bertemu. Terlalu tajam, sehingga mampu menusukku. Bulu kuduk pun ikut merinding kala mata kami bertemu.
Lelaki dihadapanku itu… Ah! Aku tak sanggup menahan kecamuk dalam batinku. Aku tak tahu ini apa. Gemetar, sesak dan entah rasa apalagi ketika dia memandangku dengan garangnya. Lemas sekali, sungguh. Bahkan bibir tipisku tak sanggup berkata-kata saat bola mata itu menatapku. Begitu dekat, sehingga aku bisa berkaca lewat bola matanya yang hitam.
Tuhan, mohon maafkan aku. Aku malu. Sungguh. Aku tak menundukkan kepalaku ketika berhadapan dengannya. Aku sadar sejak peristiwa itu, batinku semakin berkecamuk. Aku menyesal telah membalas tatapannya. Tapi sungguh, itu semua diluar nalarku. Bagaikan terkena obat bius, aku pun terpaku ketika dia memintaku dengan paksa untuk menatapnya lebih lama.
***
Lelaki sangunis itu yang membuat hari-hariku berwarna. Semenjak aku gagal ikut olimpiade matematika, entah kenapa jadi sensitive terhadap apapun. Namun dia selalu ada untuk menghiburku dengan sejuta kekonyolan yang dilakukannya.
Aku mengenalnya sudah cukup lama. Anaknya asik, humoris, berambut lurus, cuek tapi perhatian, selalu memakai kaos oblong dan celana panjang yang menurutku cingkrang dan hobinya selalu merayu perempuan dengan kata-kata puitis yang dia pelajari dari buku Chairil Anwar.
            Secungkil senyuman aku daratkan ketika dia mulai melancarkan aksinya.
            “Hai cewek. Kamu cantik deh, boleh kalau kita kenalan? Gue Radit.”
            Begitulah kalimat pembuka yang hampir dia utarakan pada setiap perempuan yang menurutnya ‘menarik.’
            Bahkan  saat dia mulai jenuh dengan rumus-rumus kalkulus yang dipelajari di kelas, kegilaan yang lebih parah dia lakukan dihadapan puluhan pasang mata. Saat kami berjalan menuju kantin fakultas, Radit tiba-tiba menghentikan langkahku.
            “Bentar ya, Din. Lo tunggu sini.”
            Aku bengong, spontan menghentikan langkah. Lalu dalam hitungan detik, dia sudah menghampiri seorang perempuan berkerudung hijau yang tak jauh dari kami. Perempuan itu cantik, memiliki tinggi badan sekitar 165 cm, menggunakan tas selempang, kemeja lengan panjang dan rok hitam serta sepatu flat shoes.
Tipe Radit banget.” gumamku ketika melihat perempuan itu.
“Hai kenalan dong.” Sapa Radit pada perempuan yang dia hampiri.
“Gue Radit. Lo siapa?” Dia terus berjalan di samping perempuan itu, walau pun dia tahu, kemungkinan akan ditanggapi hanya satu persen.
“Lo mau nggak jadi pacar gue?”
Kini perempuan itu menghentikan langkahnya. Melihat ke Radit sebentar.
“Tuhan… Semoga ini hanya keisengan Radit saja.” Batinku mulai ketakutan, takut Radit serius dengan perempuan itu.
“Nggak usah sok kenal!” Mata perempuan itu melotot.
“Kenal juga nggak, ngajak pacaran!”
Dengan sekejap, perempuan itu mempercepat langkahnya. Pergi meninggalkan Radit yang masih terdiam di tempat semula.
“Huahahaha.” Aku tertawa puas melihat respon perempuan yang Radit coba dekati itu.
Dalam hitungan detik, Radit menghampirku.
“Jahat lo, Din!” Timpal Radit.
“Gue di tolak cewek lagi nih. Nggak tahu untuk yang ke berapa kalinya.”
“Yaiyalah, Dit… Gimana lo nggak ditolak cewek. Lah wong cewek yang kamu tembak semuanya dapat nemu di jalan.” Ledekku sambil berjalan meninggalkan Radit.
Radit menyusulku.
“Terus menurut lo, gue harus gimana supaya gue bisa punya pacar?”
“Pacar mulu yang ada di otak lu. Urusin tuh tugas kalkulus yang belum lu kerjain.”
Radit mencibir sebal, perkatannya tak begitu ditanggapi.
***
            “Din, tatap mata gue!” Begitu ketika awal Radit memaksaku untuk melihat bola matanya.
            “Lepasin gue, Dit!” Aku mencoba memalingkan muka ke segala arah. Menghindari tatapannya yang begitu tajam. Tatapan macam apa itu. Sebelumnya aku tak pernah melihat sorot mata Radit seperti itu.
            Kini, pundakku di cengkramnya. Rasanya ingin sekali berteriak agar ada seseorang yang menolongku, namun entah mengapa suaraku tak bisa keluar.
            “Din, sorry kalau gue kaya gini.” Mukanya begitu serius berbicara persis di depan mukaku.
“Tapi jujur gue suka sama lo. Gue mau lo jadi pacar gue.” Lanjutnya sambil terus mencengkram pundakku.
            “Iya, tapi nggak usah kaya gini. Lepasin gue dulu. Nanti teman lo ngiranya kita ngapa-ngapain.” Aku mulai ketakutakan melihat Radit yang selama ini begitu humoris mendadak anarkis.
            ‘Nggak! Gue nggak akan ngelepasin lo sebelum lo jawab pertanyaan gue. Dan gue mau lo jadi pacar gue, Din. Please, jangan tolak gue.”
            Aku terdiam sejenak. Benarkah lelaki dihadapanku sekarang adalah sahabatku, Radit? Namun mengapa dia seperti ini. Sorotan matanya begitu tajam. Membuat badanku bergetar ketika dia mencengram pundakku. Radit… Engkau kah ini?
            “Din?”
            “Eh… Ng… Iya apa?” Jawabku gelagapan. Daritadi aku mencoba menundukkan kepala, menghindari bola mata itu. Tak kuasa aku menatapnya.
            “Jadi lo mau kan jadi pacar gue?” Tanyanya sekali lagi.
            “Ng… Dit, boleh tanya sesuatu dulu?” Aku mulai lemas, tangannya masih saja mencengkram pundakku.
            “Apa?”
            “Tapi lepasin dulu tangan lo dari pundak gue. Sakit. Gue janji gue nggak akan kabur.”
            Akhirnya Radit melepaskan tanggannya.
***
            “Eh, Dit, kita udah berapa lama ya sahabatan?” Tanyaku disela-sela mengerjakan tugas kalkulus.
            “Berapa ya… Hmm… Mungkin tiga atau empat atau lima tahun. Nggak tahu, Din. Gue lupa. Hehehe.”
            “Huh dasar!”
            “Ngapa emang?” Tanyanya.
            “Nggak apa-apa sih hehe. Kayanya sudah lama saja gitu kita sahabatan. Dari SMA kan, ya?”
            “Iya.” Jawabnya cuek.
            “Ah… Tapi lo nggak peka mulu.” Celetukku tanpa sadar.
            “Hah? Nggak peka kenapa, Din?” Radit langsung memalingkan mukanya ke wajahku.
            “Eh… Ng… Anu… Nggak apa-apa kok.” Aku mulai gelagapan. Khawatir Radit menaruh curiga kepadaku.
            Sore itu, setelah selesai mengerjakan soal-soal kalkulus, kami langsung menemui salah satu teman kami. Bermaksud merencanakan tujuan tempat wisata untuk mengisi liburan semester.
            Dia Gagah. Seperti namanya, dia begitu gagah. Tak kurus, tak juga gemuk. Tingginya sekitar 175 cm. Rambutnya sedikit acak-acakan, namun tetap rapi. Bila orang melihatnya dari kejauhan, dapat kupastikan mereka begitu terkesima dengan penampilannya yang sehari-hari menggunakan kemeja, celana bahan dan sepatu pantopel. Laganya sudah seperti orang kantoran saja. Padahal masih kuliah semester tujuh. Ditambah, dia tak perokok. Ah… betapa beruntungnya perempuan yang bisa mengambil hati Gagah.
            “Jadi kita mau ke mana?” Tanyanya membuka pembicaraan.
            “Naik gunung aja. Hehe.” Celetukku
            “Ah gaya pake naik gunung segala. Diajak lari 5 km aja udah engap.” Ledek Radit.
            Aku mendengus sebal.
            “Bagaimana kalau kita renang aja?” Usul Radit.
            “Yailah liburan sebulan lo pake buat renang doang?” Protesku yang memang tak menyukai olahraga renang.
            “Ye… Bodo! Daripada lo, nggak bisa berenang!”
            “Sudah… sudah… Kalian tuh kalau sudah ngomongin liburan, pasti ribut terus.” Gagah mencoba melerai kami.
            Aku diam. Radit pun diam.
            Tak lama setelah itu, alih-alih sakit perut, aku izin untuk ke toilet. Padahal bohong, aku muak dengan omongan Radit yang asal nyeletuk seperti itu. Bikin sakit hati.
            “Eh, Dit, emang lo nggak sadar sesuatu?” Tanya Gagah ketika aku pergi ke toilet.
            “Sadar apa?” Radit bingung.
            “Kalau Dina suka sama lo.”
            “Hahaha nggak usah bercanda deh. Gue sama Dina itu udah sahabatan dari SMA. Jadi mana mungkin kalau dia suka sama gue.”
            Saat Radit berbicara seperti itu, tanpa sengaja aku mendengarnya dari balik dinding.
            “Yailah… Justru dari persahabatan bisa jadi cinta.” Tegas Gagah.
            “Nggak mungkin lah, Gah. Lagian selama ini gue menganggap Dina itu sebagai sahabat gue. Nggak lebih.”
            Deg! Batinku bagaikan tersambar petir, mendengar perkataan Radit seperti itu. Ternyata selama ini hanya aku yang berharap lebih padanya.
            “Nggak boleh gitu, Dit. Saran gue nih, jangan sia-siain orang yang sudah sayang sama kita. Nanti nyesel loh.” Gagah dengan gagahnya mencoba menasihati Radit.
            “Masa sih?”
            “Iya. Mending lo tindaklanjuti perkataan gue. Siapa tahu selama ini Dina emang memendam rasa sama lo. Takutnya nanti lo malah nyesel kalau Dina sama yang lain.”
            Aku muncul ditengah-tengah perbincangan antara Radit dan Gagah. Mereka langsung terdiam.
            “Pulang yuk.” Kataku sembari menyambar tas ransel coklat.
            “Tapi kan kita belum nentuin liburan nanti kita mau ke mana.” Jawab Radit bingung melihatku yang tiba-tiba mengajaknya pulang.
            “Yaudah kalau gitu gue pulang duluan ya. Bye!”
            “Din…” Belum sempat Radit berkata, aku sudah menghilang di belokan jalan.
            “Nah kan…” Seru Gagah.
***
            “Jadi gimana Din, jawabannya?” Tanya Radit ketika melepaskan tangannya.
            “Ng… Kok jadi gini ya.” Kataku mencari-cari alasan.
            “Kenapa lo tiba-tiba malah ngajakin gue pacaran? Bukannya lo sendiri yang bilang sama gue kalau selama ini lo ngerayu cewek cuma buat iseng-iseng dan lo sendiri juga yang bilang sama gue kalau lo nggak mau pacaran sebelum lulus.” Aku mencoba mencari alasan dibalik pertanyaan Radit.
            “Karena kata Gagah, gue nggak boleh nyia-nyiain orang yang sayang ke kita. Dan menurut gue, lo orang yang care sama gue selama ini.”
            Aku terdiam sejenak, berpikir.
            “Jadi hanya karena Gagah bilang seperti itu?”
            “Bukan, Din. Gue sadar kalau selama ini cewek yang gue cari itu lo. Lo yang selalu ada buat gue, saat gue sedih atau pun senang. Gue nggak mau nyia-nyiain lo. Guesuka sama lo, Din.”
            Nafasku terasa berat sekali. Aku harus bagaimana, Tuhan. Aku mencintainya. Sungguh. Tapi orang tuaku melarang keras kalau aku pacaran. Katanya jangan pacaran dulu sebelum lulus kuliah.
            Kini, lelaki yang aku cintai diam-diam selama satu tahun belakangan, ada dihadapanku dan memintaku untuk menjadi pacarnya.
            “Bila dia mencintaimu, dia nggak akan mengajakmu pacaran, tapi akan menghalalkanmu, segera.” Tiba-tiba aku teringat oleh perkataan salah satu sahabatku.
            “Hmm… Jadi gini, Dit.” Aku membuka pembicaraan yang semula sunyi.
            “Jujur, gue emang suka sama lo. Tapi disatu sisi, orang tua gue melarang gue buat pacaran. Lagipula, sekarang gue udah menghapus kata ‘pacaran’ dari kamus hidup gue.” Jawabku dengan berat hati.
            “Terus gimana, Din? Lo nolak gue ya? Please… jangan tolak gue.”
            “Untuk sekarang, gue nolak lo untuk jadi pacar gue. Tapi bukan berarti persahabatan kita sampai di sini. Biarin aja semuanya ngalir apa adanya. Toh, jodoh nggak akan ke mana.” Senyuman kecil kutaburkan untuk menghibur hatinya, mungkin hatiku juga. Berat sekali mengatakan hal ini.
            “Hmm… Gitu ya? Jadi kita sahabatan dulu aja nih?” Katanya dengan tampang kecewa. Tatapan tajam itu kini sudah tak ada lagi, berubah menjadi sayu. Sungguh aku tak bermaksud mengubah muka yang penuh keseriusan itu.
            “Iya. Kelak nanti kalau kita udah lulus dan kamu masih menyimpan rasa itu, datanglah ke rumah orang tuaku. Mintalah aku dengan baik-baik untuk menjadi bidadari surgamu.”
            Kini, batinku makin terasa pilu. Setahun sudah menyimpan perasaan. Namun ketika dia memiliki perasaan yang sama, aku justru menolaknya.
            “Baik, Din. Gue akan datang ke rumah orang tua lo dan gue janji, gue akan menikahi lo.” Ucap Radit dengan tegas.
“Nggak usah berjanji sama gue. Takut lo nggak bisa nepatin, bahaya.” Aku bergetar mengatakan kalimat itu. Entah, aku sudah tak ingin percaya dengan janji-janji macam itu. Takut bila Radit tak bisa menepatinya.
***
Dua tahun kemudian…
            Jodoh memang tak kan lari ke mana. Lelaki pemilik bola mata itu ternyata memang disiapkan untukku. Indah sekali janjimu, Dit. Aku masih tak percaya bahwa kini aku akan menua bersamamu.
            Terima kasih, Tuhan, Kau telah mempersatukan kami dalam ikatan suci-Mu. Sungguh aku bahagia sekali”. Gumamku sembari melirik Radit.
            Berdiri di pelaminan bersama orang yang kita cintai memang sangatlah indah. Radit memang bukan lelaki romantis yang aku dambakan, tapi dia selalu bisa membuatku terasa nyaman dan aman di dekatnya.
            “Radit, kau benar-benar menepati janjimu. Dan kini aku bisa membuktikan pada semua orang bahwa tak perlu pacaran untuk sampai pada tahapan menikah. Kami pun bisa menikah tanpa pacaran. Memendam rasa dan mengejar mimpi masing-masing bukanlah suatu hal yang buruk. Kelak kalau pun jodoh, Tuhan akan mempersatukannya kembali. Pada sebuah ikatan suci.” Batinku menangis bahagia, tak menyangka akan seindah ini.
Akhirnya Radit selesai mengucapkan ijab qabul di depan penghulu dan para saksi.


Ciputat, 18 Juni 2015

4 komentar:

  1. Hihi aku mah apa ka Rudi �� masih belajar
    Tapi makasih loh

    BalasHapus
  2. Bagus, yaallah semoga cerita cinta aku juga bisa kya mbak ya hehehe

    BalasHapus
  3. Bagus, yaallah semoga cerita cinta aku juga bisa kya mbak ya hehehe

    BalasHapus