Kamis, 22 Oktober 2015

Memantaskan 5

#ta'aruf

         Langit di kampus biru mulai gelap, namun hingar bingar masih saja kutemui di setiap kaki melangkah. Entah alasan apa yang menuntunku untuk menginjakkan kaki di kampus. Padahal aku sudah tak ada kepentingan lagi, selain mengurus revisi tentunya. Namun hari ini aku tak berniat sama sekali untuk menyentuh skripsiku yang sudah jamuran.
            Siang tadi, aku bertemu dengan salah seorang teman seperjuangan yang sidangnya hanya beda tiga hari sebelum aku. Ketika mengetahui dia akan ikut wisuda 97, rasanya ada sesak di dada. Tuhan.. Mengapa aku tak bisa mendaftar pada wisuda 97. Batinku menjerit.
            “Sha, revisi sudah selesai?” Tanya Tia ketika kami berpapasan di depan ruang prodi.
            Aku hanya tersenyum masam.
            “Sha, kamu itu bisa loh ikut wisuda 97. Pepetin aja dosennya.” Timpal Fani yang saat itu juga hendak mendaftar wisuda.
            Lagi, aku masih diam tak menjawab pertanyaan mereka.
            “Sha? Jawab dong!”
            “Eh… Sorry.” Jawabku gelapan. “Nanti aja deh, gue wisuda setelah ada yang lamar gue!” Huahahaha.
            Spontan aku langsung kabur dari mereka, tanpa pamit. Bukan aku tak menghormati mereka, hanya saja… Ah sudahlah. Aku wisuda November saja setelah revisi ini benar-benar selesai.
***
            Di pertengahan Agustus, aku kembali bertemu dengan Rani. Setelah dia bercerita panjang kali lebar perihal bang Roma, dia menyerempetkan sebuah pertanyaan yang sebenarnya sudah tak ingin aku dengar.
            “Sha, kok masih betah nge-jomblo?”
            Deg! Kali ini aku yang terdiam.
            “Cari pacar lagi sih daripada ngegalau nggak karuan. Hehehe.”
            “Duh, Ran, kenapa harus bahas pacar sih? Males ih dengarnya.” Aku langsung pergi meninggalkan Rani yang heran karena sikapku.
            Entah kenapa rasanya malas sekali mendengar perihal ‘pacar’ atau ‘jodoh.’ Bisa dibilang ‘gue orang yang paling sensi kalau udah membahas dua hal tersebut.’ Yeah, selain karena trauma untuk jatuh cinta lagi, aku pun sudah tak ingin punya pacar lagi. Patah hati yang terakhir kali itu, mampu merubah 90 derajat sudut pandangku perihal cinta. Ah… cinta macam apa yang membuat orang sesakit itu?
            Dari SMP, aku telah mengenal banyak orang, baik cewek atau cowok. Semua itu aku kenal di organisasi sekolah atau kegiatan sosial yang aku lakukan di luar. Puncaknya ketika kuliah, orang-orang yang aku kenal semakin hari semakin banyak. Mereka yang datang sesaat, kemudian pergi lagi entah ke mana. Atau orang yang masih stay di sekitar kita.
            Begitu pun ketika aku resmi memasang predikat ‘High Quality Jomblo.’ Ada beberapa laki-laki yang datang silih berganti ke kehidupanku, berusaha mengambil perhatian bahkan hatiku dengan cara mereka masing-masing. Namun itu semua justru membuatku semakin muak. Rasanya saat itu ingin sekali berteriak “Berhentilah kalian merayuku!” Walau endingnya bakal ketawa juga.
            Bukan aku tak peka, bukan pula tak ingin jatuh cinta (lagi). Tapi sudah cukuplah peristiwa satu tahun yang lalu kujadikan sebagai pelajaran. Ah… Patah hati itu tak enak!
            “Sha, tunggu dong!” Teriak Rani berusaha mengejarku.
            “Apalagi? Mau ngenalin gue sama siapa lagi? Kek gue nggak laku aja.” Aku sewot, seolah mengerti akan menjurus ke mana obrolan kami.
            “Ih… Nggak gitu. Kali ini benaran deh beda. Bukan kaya cowok-cowok yang udah lu kenal.”
            Aku diam sebentar, melirik tajam ke Rani.    
            “Huahahaha sudah ah bosen dengar hal-hal yang berbau cowok dan jodoh.” Aku melanjutkan langkah kaki yang entah akan pergi ke mana.
            “Lo mau gue ta’arufin nggak?” Teriak Rani ketika aku sudah mulai menjauh darinya.
            Samar-samar aku masih mendengar apa yang keluar dari mulut Rani. Ta’aruf? Tanyaku dalam hati.
            Aku berhenti. Rani berlari kecil mengejarku.
            “Gimana, Sha? Lo mau gue ta’arufin nggak?”
            Aku diam. Tak tau harus jawab apa. Memang untuk saat ini aku memang tak ingin untuk punya pacar, hanya saja kalau untuk ta’aruf lalu menikah… Itu belum pernah terlintas dipikiranku.
            Ah Rani…

4 komentar:

  1. Waaaaah... begitu ya Kak ceritanya.. Luar biasa.. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Loh, ada Dani jugak di sini :)

      bukanbocahbiasa(dot)com

      Hapus
    2. Halo mba Nurul
      Salam kenal :D
      Terima kasih sudah mampir di blog yang isinya curhatan semua :D

      Hapus