Senin, 06 April 2015

Berdebat dalam heningnya malam



Tatapan gadis itu, tak pernah kulihat sebelumnya. Sendu dan layu. Bagaikan tatapan seorang yang kelelahan

Aku pikir dia gadis yang kuat. Sungguh aku tak mengetahuinya jika dia selemah ini

Dan ketika kukatakan “Aku pergi.”

Sorot matanya bak seperti tatapan mata kucing yang meminta belas kasihan. Menunjukkan bahwa dia tak menginginkan hal ini terjadi.

Matanya terlihat memerah, butiran-butiran kristal mulai mengalir di pipinya yang putih nan kemerahan

“Aku pergi.” Kukatakan hal yang sama lagi padanya

Namun dia hanya menunduk. Tak memberanikan diri untuk menatapku

Aku pun duduk disebelahnya, namun dia menghindar. Kini semakin terlihat jelas bahwa pipinya telah basah

Waktu pun berlalu begitu saja. Dan gadis itu masih tetap diam dan bisu. Seolah aku bukanlah orang yang dirindunya lagi

Sungguh. Aku tak ingin seperti ini. Tapi aku harus meninggalkannya dalam diam bersama heningan malam

Selamat tinggal gadis bermata sendu

Cilegon, 6 April 2015

***

Wahai, Tuan
Tak tahukah engkau bahwa gadis bermata sendu itu telah tumpah sedihnya?
Dalam heningan malam
Dia berusaha menguatkan dirinya
Namun apa, Tuan
Kau tak tangkap lirihnya

Kau bilang ini tak mengapa

Sesungguhnya
Diamnya menyembunyikan sejuta kepahitan
Berusaha merenda waktu
Yang telah disia-siakan

Semoga
Kita dapat bertemu lagi, Tuan
Suatu hari nanti

Tidak ada komentar:

Posting Komentar