Sabtu, 11 Juni 2016

Singapore, im back




Hey kamu, iya kamu
Dulu, ketika pertama kali menjajakan kaki, aku pernah berjanji bukan, suatu hari nanti aku akan mengunjungi dan bertemu denganmu lagi
Hari ini aku tepati janji itu
Untuk kedua kalinya aku menemuimu
Singapore, 31 Mei 2016



        
Singapore, Maret 2015




Sebagai salah satu peserta penerima beasiswa Vokasi Menulis Kemendikbud untuk pelajar paket C dan pendidikan berkelanjutan se Banten, Jakarta dan Jawa Barat, kami berkunjung ke National Library Building, Singapore





NLB Singapore, 1 Juni 2016







Bukankah di dunia ini tidak ada yang kebetulan?
Semuanya sudah dituliskan oleh Yang Maha Kuasa
Termasuk perjalanan tiga hari kami di Singapore
Berada diantara 10 orang lainnya, saya merasakan sensasi yang luar biasa. Dari yang masih SMA sampai yang berumur 66 tahun ada di kelompok dua


 
Dear calon imam,
Kapan ke sini bareng aku?
Yakin nggak mau nemenin aku travelling? :D






Jumat, 06 Mei 2016

Dibalik Ide Yakin (Masih) Mau Pacaran





            World Book Day 2016 yang jatuh pada 23 April 2016 ini merupakan kado terindah di hari lahir yang ke 23 tahun.
            Rasanya bagaimana?
            Kalau nggak senang, berarti gue nggak normal! Hahaha.
            Jelaslah, ini buku yang gue tulis sendiri, hasil ngegalau dan pemikiran sendiri. Setelah lima tahun nulis kumpulan antalogi di sana-sini, serta cerpen dan artikel yang sudah beredar di koran Banten.
            Kalau ditanya, kenapa milih nulis buku ini yang keliatannya Islam banget, gue juga nggak tahu. Hehe.
Pun untuk jenis bacaan, gue merupakan penikmat karya-karyanya Djenar Maesa Ayu yang tulisannya terkenal ‘liar.’ Bahkan dulu ketika masih kuliah, sebagian besar cerpen yang gue tulis hampir terpengaruhi gayanya Djenar atau Tere Liye dengan penuturan alur cerita yang luwes dan detail.  Terus kenapa bisa tersesat sejauh ini dan menulis non-fiksi yang islami banget?
Kalau mereka yang tahu ketika pertama kali saya nulis ini pasti langsung menjawab “Nulis beginian karena habis patah hati. Haha.” Mereka nggak salah, mereka benar.
Bagi mereka yang kenal gue selama jadi mahasiswa, mungkin teman-teman gue kebanyakan cowok, pacaran dari dulu nggak pernah yang namanya patah hati, paling banter patah hati sehari doang, besok-besok sudah lupa. Baru waktu itu saja yang hampir khilap. Sampai sakit banget dan harus keluar-masuk Rumah Sakit. *oke yang ini terlihat lebay, tapi ini benar.
Tapi untungnya gue berada di lingkungan UIN yang katanya agamais banget. Jadi sekhilap-khilapnya gue masih punya teman-teman yang baik.
Jadi waktu itu gue terinspirasi kenapa nggak gue bikin cerita saja ya, Tapi justru salah satu teman ada yang bilang,
“Nanggung, Git. Jadiin buku motivasi Islam saja. Jadi pakarnya kan lo sekarang. Lihat saja tuh bacaan-bacaan lo sekarang. Hahaha.”
Saat itulah untuk pertama kalinya otak gue mulai diracunin bacaan sejenis Felix Siauw dan saat itu gue paham kenapa Islam melarang umatnya buat pacaran. ‘Karena takut patah hati.’ dan ini patah hati ke dua setelah buku ini launching.
“Kamu kapan jatuh cintanya, sudah patah hati saja?” Haha abaikan~
Gue sadar ketika nulis ini, mereka pada bilang kalau “status” gue bakal jadi pertaruhan. Ya dulu sih gue selow-selow saja karena saat itu nggak kepikiran buat pacaran dulu. Pun kalau pun nanti jatuh cinta, akan jauh lebih hati-hati dalam menjaga hati.
Jadi seperti itulah sedikit proses kenapa buku ini bisa lahir. Bukan berarti gue sudah alim  terus nggak akan pacaran lagi. Namanya manusia, kadang suka khilap. Kalau berpikiran gue yang seperti itu, mungkin perlu kenalan lagi sama gue. Hehehe
So, Yakin (masih) mau pacaran?
Hmm… Ntar dulu ya! Hahaha

Salam,
Cilegon, 6 Mei 2015

Senin, 02 Mei 2016

Memantaskan 10

Ikhlas Melepasmu

            Aku hampir lupa bagaimana dulu rasanya jatuh dan bagaimana rasanya sakit karena cinta. Hingga akhirnya ketika hati mulai tumbuh virus-virus merah jambu (lagi), aku tak mempersiapkan kalau suatu hari nanti akan jatuh (lagi).
            “kamu nggak apa-apa kalau jatuh, nanti aku yang tangkap.” Begitu katamu saat pertama kali kita kenal.
            Tapi nyatanya kini aku benar-benar jatuh dan kamu entah di mana.
            Ah… Mengapa harus selemah ini!
Aku tahu kejadian ini pasti akan terjadi suatu hari nanti dan itu hari ini. Sepagi ini, di mana kamu benar-benar mundur dan pergi dari kehidupanku.
            Aku tak pernah menyalahkanmu seutuhnya, sungguh. Aku pun tak bisa sepenuhnya meyakinkanmu untuk tetap bersamaku. Mungkin kamu merasa tertekan dengan statusku dulu yang hampir menyempurnakan separuh agama. Tapi sungguh, setelah kejadian itu bahkan sampai detik ini aku pun belum memikirkan sampai sejauh itu (lagi). Aku hanya tanya keseriusanmu, lalu salahkan?
            “Sudah, Sha nggak usah dipikiran lagi. Belum tentu juga dia mikirin kaya lo gini.” Kata Rahmah ketika malam hari aku bermain ke rumahnya.
            “Nggak tahu. Sudah nggak mau bahas lagi. Cuma butuh ketenangan.” Jawabku saat itu.
            “Setelin Surah Yasin dong.” Lanjutku pada Rahmah.
            Entah mengapa setiap hati mulai resah, hanya dengan mendengarkan Surah tersebut hati perlahan mulai tenang.
      “Baru beberapa bulan kan? Masih bisa move on lah. Yang bertahun-tahun aja bisa, walau butuh hitungan tahun juga sih ya buat move onnya Hehe. Ayolah jangan lemah karena hal ini.” Rahmah terus menyemangatiku. Walau nggak ngaruh sama sekali sama diri ini
  Kalau terus-terusan seperti ini, sudut pandangku tentang cinta bisa berubah sepenuhnya!
            Ah kenapa harus kalah dengan perasaan. Sadar, Sha, kamu jatuh karena cinta bukan cuma kali ini. Ini yang ke dua kan? Dan harusnya kamu bisa lebih kuat lagi, bisa lebih menghadapi situasi yang seperti ini. Lalu mengapa lagi dan lagi harus dilarikan ke tempat yang berbau obat-obatan lagi, kenapa?
            Teringat dulu, ketika pertama kali jatuh dan saat itu masih menjadi mahasiswa. Nyaris saja diri ini lepas control.
“Kakak, kakak tuh kuat, kakak tuh hebat, pintar. Lalu kenapa harus jatuh hanya karena perasaan. Kenapa, Kak?” Tanya Nadia dulu, ketika pertama kali jatuh.
“Aku bod*h dan lemah kalau untuk urusan ini!” Jawabku asal.
“Sudahlah, Kak. Mungkin Allah cemburu sama Kakak. Kakak yang cinta sama dia daripada Dia.  Makanya Kakak ditegur sama Dia. Syukur-syukur tegurannya masih halus, loh. Bagaimana kalau Dia negurnya melebihi ini?”
Ah, Nad… Nyatanya dalam hal ini kamu lebih bijak. Aku jadi kangen!
Iya, mungkin Allah cemburu. Bagaimana mungkin kita sebagai manusia berharap kepada sesama manusia? Yang seharusnya harapan itu hanya kepada Dia. Mungkin ini jalan terbaik untuk aku, pun untuknya. Toh, kalau jodoh tak akan pernah tertukar. Dan jika mencintainya, masih ada cara lain yang bisa jadi sebagai jurus pamungkas, yaitu mendoakannya.
“Tuhan, Jodohkan!”
Terima kasih, cinta, aku tak akan pernah menyalahkanmu yang sempat singgah~

Sehebat apapun ku pertahankan, tak kan pernah bisa kulawan segala ketetapan yang Tuhan tuliskan. Kusadar ini jawaban yang Tuhan berikan, dengan pasrah, engkau kuikhlaskan. OST KH2M-Ikhlas Melepasmu.

“Maka beruntunglah kamu yang dicintai seseorang. Karena namamu tak akan pernah luput dari setiap sujudnya. Pun di sepertiga malamnya. “Carissa Githa

Cilegon, 1 Mei 2015



Jumat, 29 April 2016

Memantaskan 9

Dia, Si Pengganggu

                Cinta…
                Apa kabar?
                Semoga dirimu baik-baik saja
                Hati? Insya Allah sehat
                Asalkan jangan ada dusta diantara kita *eaaa hahaha

                Sore itu di kampus tercinta…
Rasanya aku sudah lama sekali tak bertemu dengan Rani, teman kuliahku dulu. By the way, sekarang aku sudah lulus kuliah loh. Yippiee akhirnya bisa memberikan kado terindah untuk ke dua orang tua hehe. Lalu, hati apa kabar? Sehat! 100 kali lipat lebih sehat dibanding sebelum-sebelumnya. Hahaha. Aku senang, bahagia, rasanya beban yang selama ini bersarang di hati akhirnya terlepas semua.
                Beberapa minggu yang lalu aku habis bertemu dengan Rani. Kita janjian di kampus. Kenapa harus di kampus? Maklum sajalah, hati kita, aku terutama, masih belum bisa move on dari kampus, dari kuliner tepatnya, hahaha.
                “Sha…” Rani membuka pembicaraan.
                “Yo Kenapa? Sehat, Ran? Hehe.”
                “Ya seperti yang kamu lihat. Tapi…”
                “Etts Kenapa nih?” Potongku cepat, mencium-cium tanda curiga *sok taunya kumat*
                “You know me lah…”
                “Abang Roma, lagi?” Tanyaku menerka-nerka.
                Dijawab dengan anggukan.
                “Ah Rani… Cukup hentikan ini semua, aku sudah nggak kuat. Kenapa kamu masih mau bertahan sama orang yang sudah membuatmu sakit dan cemburu? Sekejam itukah cinta?” Batinku seolah menjerit. Sebenarnya agak malas mendengarnya ketika aku tahu pembahasannya seputar Bang Roma (Baca diseri memantaskan 4).
                “Apa lagi kali ini?” Tanyaku menyelidik.
                “Si penganggu.”
                “Huuft.” Nafasku terasa berat.
                Ini masalah Rani, kenapa juga aku yang bukan siapa-siapa harus ikut campur. Tapi bagaimana pun juga dia tetap temanku, teman satu kampusku. Bukankah sesama manusia harus saling membantu? Dan sebaik-baiknya manusia adalah yang berguna untuk orang lain. Ya, aku mau berguna untuk Rani, kali ini.
                “Tinggalin!” Jawabku sebal.
                “Tapi kan, Sha…”
                “Ah kamu… setiap kali cerita, aku selalu dengar. Tapi setiap aku kasih solusi, kamu ngeles mulu. Ya aku bingung jadinya sama kamu.”
                “Ya habisnya itu cewek nyebelin. Kan Roma sudah jadi pacar aku sekarang.” Dia bercerita dengan muka ditekuk.
                “Baru pacar, masih bisa cari yang lain.” Aku mulai ketus dengan Rani.
Bukannya aku tak suka, hanya saja kasihan. Meskipun Bang Roma sudah bilang ini itu, tapi kalau masih ada mantannya yang mengganggu dan mengharapkannya, ya mau bagaimana lagi. Aku juga sebal kalau ada di posisi Rani dan aku lebih memilih pergi daripada ngeributin Bang Roma. Ih siapa dia yang di ributin mulu. Lama-kelamaan dia bakal besar kepala karena merasa dirinya lebih dari segalanya sampai ada dua perempuan yang memperebutkannya. Iyuh~
Eh… Maap nggak bermaksud ngejelekin juga. Tapi ya jadi perempuan think smart dikitlah. Jangan sampai ribut cuma karena masalah sepele, apalagi masalah pacar, yang statusnya masih bisa diambil orang lain *earaaa
Di luar sana, masih banyak cowok yang jauh lebih baik dan mungkin jauh lebih setia dari dia yang sekarang. Syukur-syukur ada yang langsung mau melamar, hihi. Satu kuncinya, IKHLASIN. Toh buat apa dipertahanin kalau hanya bikin sakit hati saja?
”Coba pikirin, kamu sama dia lebih banyak senangnya atau sakit hatinya?” Aku kembali bertanya.
 “Eh… Ng… Senangnya, tapi.. Eh..”
“Ah kamu saja jawabnya masih ragu-ragu gitu.” Lirikku kepada Rani dengan muka sebal.
“Sudahlah tinggalin saja. Masih banyak ikan di lautan.”
“Memangnya kamu mau mincing, Sha?” Tanya Rani pura-pura.
“Rani…” Hah aku mulai sebal dengannya.
Sudahlah lebih baik mundur kalau permasalahannya masih di situ-situ saja. Apalagi sampai melibatkan orang ke tiga.
“Aku menyerah, Ran.” Batinku~
***
Pertemuan sore itu tak menghasilkan apa-apa.
Damkar, 9 April 2016